Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Kunci Pendidikan Profesional

Gambar
   Pendidikan di negeri ini terlihat membingungkan. Nampak jelas, terlihat dari kualitas outputnya. Lulusan sarjana, tetapi saat mereka bekerja ditanya, " Kamu bisa ajari pelajaran ini ? "  ujar tingkat junior " Sudah lupa aku," jawab lulusan sarjana. Keluh seorang guru, " Saya bingung dengan Kurikulum 2013, guru disuruh ini itu. Terlalu banyak pelatihan." Alhasil, murid malas, guru kelagapan. Moral dan adab seorang anak peserta didik mulai hilang. Guru dianggap seperti temannya sendiri, berbicara tidak sopan, tingkahnya yang kurang ajar. Dinasehati sedikit, mengumpat dibelakang. Menjelek-jelekkan guru, "Terserahku bu...bu/pak...pak," "Murid itu butuh kebebasan, gak stress mikirin banyak tugas," " Mending gak sekolah, kalau materinya gak berguna sama sekali," "Yang penting ngumpulin tugas, yang penting hadir. Gak paham atau gak bermanfaat urusan belakang," "Buang- buang duwit, kalau ujung-ujungnya disuruh belaja...

Yuk bermain !

 Anak yang sehat, cerdas, ceria,  dan berakhlak mulia adalah    dambaan    semua orangtua yang  memiliki  anak  usia  dini.  Selain itu,  anak  perlu  juga  mengoptimalkan kreativitasnya  agar  dapat  bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, orang tua, masyarakat. Namun, dalam menumbuh kembangkan anak menjadi kreativ sangat tergantung pada kemampuan orang di sekitarnya, termasuk kondisi lingkungan dimana anak hidup. Pada dasarnya, dapat dikembangkan oleh orangtua maupun guru di sekolah. Berkaitan dengan peran guru di sekolah, khususnya di PAUD, maka dibutuhkan berbagai pendekatan dan startegi pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas anak. Salah satu strategi pembelajaran, yang saat ini diakui yaitu berbasis sentra bermain.  Sentra merupakan model pembelajaran yang memiliki ciri khas learning by doing dimana anak terlibat langsung dalam pembelajaran, learning stimulating anak diberikan s...

Lakukan ini ! Pembelajaran akan kondusif

  Berbicara mengenai  anak pada usia dini, dimana telahir dengan suci. Bersih dari dosa, polos, lucu, dan menggemaskan. Melihat perkembangan si kecil beranjak memamusiki beberapa bulan, sudah mulai tengkurep, menyangga leher, duduk, merangkak, hingga berjalan. Anak mulai meniru perkataan orang disekitar, berekspresi, bermain, mengenal benda  dan sebagainya. Pada tahap pembelajaran anak harus dibimbing secara maksimal. Orangtua sebagai pendidik pertama, menjadi suri tauladan pembentukkan karakter. Kunci utama pembentukan generasi gemilang, apabila orangtua mampu mengenal Sang Penciptanya, tujuan dia diciptakan, serta mengimani Rasul-Nya. Berharap kelak sanggup menghadapi perkembangan zaman. Bukan orangtua saja yang berperan aktif mendidik anak, gurupun ikut berpartisipasi di dalamnya. Berdasarkan pendapat Piaget, pentingnya guru mengembangkan kemampuan kognitif pada anak seperti agar anak mampu mengembangkan daya persepsinya berdasarkan apa yang ia lihat, dengar, dan rasak...

Talent Itu Gak Instant

Gambar
  Waktu kita kecil pasti ibu pernah mengarahkan kita ikut lomba. Entah itu lomba 17 Agustusan atau lomba yang diselenggarakan di luar rumah. Dahulu saya suka sekali mengikuti lomba 17 Agustusan. Pernah jadi juara 2 dan 3 lomba, menangkap belut dan gandul terong. Tahukan gandul terong ? Jadi terongnya diikat pakai tali terus ditaruh dipinggang. Tantantangannya menendang bola dengan terong tersebut. Haha lucu ya. Selain itu saya juga pernah mengikuti lomba mewarnai dan melukis. Namun, sayangnya saya kalah. Gak papa yang penting punya pengalaman. Ketiga guru bertanya, "Anak-anak cita-citanya apa ?" saya menjawab, " Jadi dokter guru, prisenter, penyanyi dan masih banyak lagi," polosnya diriku. Saya dulu, juga senang sekali menyanyi dan menari. Sayangnya, ketika ingin mengikuti ajang pencarian bakat tak bisa ku mengikuti tempo nadanya. Ibu pernah mengujiku untuk karoke di rumah, apalah daya semua hancur berantakkan. Selang beberapa tahun, SD,SMP,SMA cita-citanya mulai be...