Seharusnya Kita Bersyukur

 

Ternyata berada di rumah selama berbulan bulan sangatlah melelahkan. Aktivitas yang bisa dilakukan hanyalah makan, tidur, bersih bersih rumah, sekolah daring. Muter aja terus setiap harinya begitu. Bosan kan ? Mau kemana mana pakai masker, social distancing, selalu pakai handsainitazer. Dimana kita berada harus terapkan protokol kesehatan. Entah mau di mall, caffe, minimarket, dan tempat - tempat umum lainnya.Ya, Allah kapan corona ini berakhir ? Akupun juga gak tahu. Hanya satu cara yang aku bisa. Stop mengeluh, banyakin berdoa.

 

Rasa Cemas

 

Makhluk micro ini memang kasat mata. Terlebih lagi, dapat menjadi ancaman besar bagi seseorang yang mengindap penyakit asama, jantung, dan kanker paru - paru. Bukan hanya mereka saja, virus ini juga rentan untuk para lansia. Bagi orang - orang yang imunnya pun lemah juga akan terdampak.

 

Semenjak covid ini masuk ke Indonesia, pada awal Maret 2020 tepatnya di Depok. Rakyat Indonesia seketika heboh. Latah, memborong handsandnitazer dan masker sebanyak mungkin.

Para petugas medis kuwalahan menangani pasien membludak. Korban meninggal bukan hanya masyarakat saja, tetapi dokter juga.

Kasus, hari demi hari teruslah melonjak. Sebagian wilayah berzona merah, seperti di Jakarta dan Surabaya. Rumah sakit khususpun tak sanggup melayani para pasien. Terpaksa pasien bergejala ringan harus dikarantina di rumahnya sendiri. Tanpa berkomunikasi dengan keluarga tercinta.

Sungguh amatlah miris, keluarga tercinta sekedar memotivasi agar cepat sembuh dan kembali berkumpul. Namun, bagaimana kondisi pasien yang telah meninggal dunia. Keluarganya menatap dari kejahuan melihat proses pemakaman tak seperti biasanya. Mayit dimasukkan ke dalam peti, dimasukkan ke dalam liang lahat oleh para petugas medis.

 

Galau

 

Kapan corona berakhir ? Idul fitri, semarak gemuruh takbir berkumandang. Rencana seperti biasa pulang kampung bagi mahasiswa atau pekerja di negeri perantauan. Menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita, saling bejabat salam dengan saudara. Ah sungguh nikmat sekali. Ditambah lagi hidangan yang menambah selera kita menjadi up terus.

Bertopang dagu, ternyata sekedar halu.

Gak mungkinlah aku pulang sekarang. Di luar sana masih gak aman. Kita harus menetap dulu. Pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Skala Besar ) bagi wilayah terdampak virus corona.

Terpaksa, idul fitri tahun ini gak balik kampung. Tapi, jangan khawatir kan masih ada handphone. Bisa vidcall dengan orang tua. Walaupun jauh, komunikasi jangan sampai putus dengan orang tercinta kita.

Orang tua, menasehati anaknya agar senantiasa menjaga kesehatan. Makan - makanan yang bergizi, jangan lupa mencuci tangan sebelum makan. Seketika menitihkan air mata. Rindu akan kampung halaman.

 

Mencoba menghibur diri, bahwa di luar sana masih ada orang yang lebih memelas daripada kita. Mereka yang ada di Palestin, gak bisa bertemu dengan orang tuanya, karena negerinya di perangi oleh zionis israil. Rumah mereka seketika musnah, mereka bertempat tinggal dimana coba ? Di tempat pengungsian tanpa ayah dan ibu. Apakah mereka bersedih ? Tidak, mereka tersenyum. Mereka yakin, suatu ketika kelak mereka akan bertemu bersama di surgaNya.

 

Seharusnya kita patut bersyukur. Kita sudah diberikan oleh Allah kehidupan lebih layak daripada mereka. Masih bisa bertemu orangtua walau lewat HP saja. Masih punya tempat tinggal. Hidup lebih layak daripada mereka. Contoh lain, kita harus lebih bersyukur lagi bahwasannya Allah masih memberikan cobaan kepada hamba sesuai kemampuan masing - masing.

Yakin, bahwa kita akan bisa melewati masa - masa ini.

 

Apakabar adikku disana ? Sekolahnya lancar ?

 

Kondisi semakin memuncak, angka kematian mulai tinggi. Kini makhluk mungil ini merasuk ke dalam tubuh bocah dibawah umur. Terpaksa sejumlah sekolah diliburkan.

Mulai dari bulan April hingga sekarang siswa dianjurkan pembelajaran daring di rumah.

Orangtua terutama ibu kembali mendidik anaknya.Karena pendidikan terbaik berada di tangan ibu. Yang selama ini lebih kenal seluk beluk anaknya.

Tapi, menurutku sendiri ternyata banyak sekali masalah - masalah saat pembelajaran daring. Jarangnya tatap muka kepada guru dapat mengganggu pemahaman kita dalam menelaah materi yang disampaikan, ditambah lagi sinyal yang sering lambat. Menggunakan vidcall menjadi terputus - putus. Tugas yang diberikan oleh guru terlalu banyak. Ditambah lagi, jika anak sudah memegang hp, konsentrasinya mulai pecah. Seharusnya belajar malah membuka aplikasi media sosial lainnya. Tanpa disadari, ternyata ini juga dapat membuat anak kecanduan. Maka pengawasan orang tua dalam memberikan anak hp perlu terus dipantau.

Lalu bagaimana dengan siswa di pelosok desa ? Mengingat disana koneksi internet kurang. Boro - boro koneksi, belum tentu mereka memiliki hp atau tidak ?  Apakabar adik disana ? Setelah ku melihat berita di berbagai web, atau situs jaringan apapun itu. Ternyata masih ada guru yang mau mengajarkan anak didiknya di pelosok sana. Seperti halnya Bungaria Rapa, Wakil Kepala SMPN 16 Sigit, Sulawesi tengah. Dilangsir dari kabarsebelas.id. Bu Bungaria mengantarkan langsung modul pelajaran bagi siswinya di Dusun Dongi - dongi, Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Sudah biasa pak. Kalau ke Dongi-dongi cuman jarak saja yang jauh. Ada lagi rumah siswa kita tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi medannya ekstrim karena jalannya rusak, ungkap Bungaria, Rabu (22/7/2020).MasyaAllah, perjuangan guru dalam mendidik muridnya seperti itu.

Kita patut bersyukur kembali. Alhamdulillah, Allah berikan kita kemudahan dalam menimba ilmu. Masih serba kecukupan, hp ada, kuota ada, tempat atau rumah yang layak dihuni, dan berbagai fasilitas lainnya. Hari ini, harus lebih bersyukur.

 

 

Komentar

  1. Masyaa Allah. Jazakillah khayr mbak tyas. Memotivasi Alhamdulillah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROBLEM BASED LEARNING

Kebijakan Pendidikan Populis, Bukan Solusi Tuntas Pendidikan

Talent Itu Gak Instant